Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025
Gambar
  Membangun Kemitraan Sekolah dan Keluarga untuk Literasi Numerasi Anak Foto Pertemuan bersama orang tua murid di SMPN SATAP Kembang Lala Oleh Lodovikus Darman *Tulisan sederhana ini berawal dari keresahan kami para pendidik di SMPN SATAP Kembang Lala terhadap polemik rendahnya semangat belajar peserta didik. Fenomena rendahnya kemampuan literasi dan numerasi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) saat ini menjadi keprihatinan bersama yang memerlukan perhatian serius. Ketika siswa mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengoperasikan aritmetika dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, dampaknya tidak hanya terbatas pada prestasi akademik, tetapi juga berpengaruh pada masa depan mereka secara keseluruhan. Permasalahan ini semakin kompleks ketika ditemukan bahwa upaya maksimal guru di sekolah belum mampu menghasilkan perubahan signifikan akibat rendahnya semangat belajar siswa dan minimnya keterlibatan orang tua di rumah. Tulisan ini berupaya mengur...
Gambar
  Mengapa Anak yang Dihukum Justru Mengulang Kesalahan yang Sama? Oleh Lodovikus Darman Dalam dunia pendidikan, fenomena paradoks sering kita jumpai semakin keras hukuman yang diberikan kepada peserta didik, semakin tinggi pula kemungkinan mereka mengulangi kesalahan yang sama. Realitas ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang efektivitas sistem hukuman dalam membentuk perilaku positif anak, khususnya pada tingkat pendidikan menengah pertama yang merupakan fase kritis perkembangan remaja. Hukuman yang berfokus pada konsekuensi fisik atau emosional cenderung mengabaikan akar permasalahan yang sesungguhnya. Ketika seorang anak melakukan kesalahan, perilaku tersebut seringkali merupakan manifestasi dari kebutuhan yang tidak terpenuhi, kurangnya keterampilan sosial-emosional, atau kesalahpahaman terhadap norma yang berlaku. Hukuman yang diberikan tanpa upaya memahami latar belakang perilaku hanya mengatasi gejala permukaan, bukan menyelesaikan masalah mendasar. Sebagai contoh, seora...
Gambar
Guru: Pahlawan Sunyi di Garis Depan Peradaban Foto Apel Bersama di SMPN SATAP Kembang Lala.Tanggal 10 November 2025 Oleh Lodovikus Darman Ada sebuah pertanyaan yang sering terlupakan setiap kali kita memperingati Hari Pahlawan. Setelah debu peperangan mengendap dan kemerdekaan diraih, siapa yang kemudian membangun peradaban di atas tanah yang baru merdeka itu? Jawabannya sederhana, namun sering terabaikan yakni para guru. Jika para pahlawan 1945 berjuang dengan bambu runcing dan senapan untuk merebut kemerdekaan politik, maka guru adalah pahlawan yang berjuang dengan kapur dan buku untuk merebut kemerdekaan intelektual. Kedua perjuangan ini bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan dua fase dari satu kontinuitas historis yang sama yakni perjuangan untuk merdeka. Plato pernah berkata bahwa jika kita ingin mengubah dunia, ubahlah pendidikan. Namun, filsuf Yunani kuno itu lupa menambahkan satu hal yaitu pendidikan adalah medan pertempuran paling panjang dalam sejarah umat manusia. Berbeda...