Postingan

Gambar
Menanam di Tanah yang Masih Basah Refleksi atas perjalanan mendidik yang terus berproses, antara literasi, numerasi, dan pembentukan karakter anak di pegunungan Sambi Rampas SMPN SATAP Kembang Lala  |  2026 Foto Bersama saat Kegiatan Numerasi dengan anak-anak Oleh Lodovikus Darman Ada sebuah kebijaksanaan tua yang tumbuh di tanah Manggarai bukan tertulis di buku, bukan pula diajarkan di kelas, melainkan diwariskan dari mulut ke mulut oleh para leluhur yang selama berabad-abad telah bersahabat dengan ladang dan musim. Kebijaksanaan itu berkata, " tanah yang paling subur bukanlah yang sudah sempurna, melainkan yang masih terus digarap, masih lembab oleh keringat dan doa, masih terbuka untuk menerima benih berikutnya".  Bukan tanah yang sudah beku karena merasa cukup, tetapi tanah yang rendah hati, tanah yang selalu siap. Metafora itu terasa sangat hidup ketika kita memandang apa yang sedang terjadi di SMPN SATAP Kembang Lala, sebuah Sekolah Menengah Pertama yang berdiri di ...
Gambar
Membangun Literasi dari Akar Foto Bersama Fasda Literasi Bpk. Ubaldus Yasir, S.Pd.,Gr Oleh Lodovikus Darman Kegiatan Lesson Study di SMPN SATAP Kembang Lala hari ini sungguh menggambarkan realitas pendidikan Manggarai Timur yang sesungguhnya. Di tengah keterbatasan, kami berkumpul membahas satu hal fundamental bagaimana menumbuhkan budaya literasi pada peserta didik. Bapak Ubaldus Yasir, S.Pd.,Gr sebagai fasda literasi menegaskan kembali kebenaran yang sering terlupakan bahwa guru yang tidak membaca akan kesulitan mendampingi siswanya berliterasi. Pernyataan ini bukan sekadar kritik, melainkan cermin jujur dari kondisi yang harus dihadapi. Pentingnya membaca buku bagi guru tidak dapat dianggap remeh. Guru yang membaca adalah guru yang terus memperbarui pengetahuannya, memperkaya perspektif, dan mengasah kemampuan berpikir kritis. Buku membuka jendela dunia yang melampaui pengalaman pribadi, memungkinkan guru memahami konteks yang lebih luas, teori pendidikan terkini, dan praktik-prakt...
Gambar
  Konseling Sekolah sebagai Praktik Pembebasan Refleksi Kritis atas Pendampingan Psikologis di Ruang Pendidikan Oleh Lodovikus Darman Bimbingan konseling di sekolah sering dipahami sebagai layanan tambahan yang bersifat teknis prosedural, semacam "perbaikan" bagi peserta didik yang "bermasalah". Pemahaman semacam ini mereduksi konseling menjadi instrumen kontrol sosial yang melanggengkan norma-norma institusional, alih-alih menjadi ruang pembebasan bagi subjektivitas peserta didik. Padahal, jika dipahami dan dipraktikkan secara mendalam, konseling sekolah memiliki potensi transformatif yang radikal, bukan sekadar menyesuaikan peserta didik dengan sistem yang ada, tetapi memberdayakan mereka untuk menjadi subjek yang otonom dan kritis. Praktik konseling yang otentik berakar pada relasi intersubjektif yang setara. Ini bukan hubungan antara "ahli" yang memiliki pengetahuan dan "klien" yang pasif, melainkan perjumpaan antara dua subjek yang sama-sama...
Gambar
  Membangun Kemitraan Sekolah dan Keluarga untuk Literasi Numerasi Anak Foto Pertemuan bersama orang tua murid di SMPN SATAP Kembang Lala Oleh Lodovikus Darman *Tulisan sederhana ini berawal dari keresahan kami para pendidik di SMPN SATAP Kembang Lala terhadap polemik rendahnya semangat belajar peserta didik. Fenomena rendahnya kemampuan literasi dan numerasi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) saat ini menjadi keprihatinan bersama yang memerlukan perhatian serius. Ketika siswa mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengoperasikan aritmetika dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, dampaknya tidak hanya terbatas pada prestasi akademik, tetapi juga berpengaruh pada masa depan mereka secara keseluruhan. Permasalahan ini semakin kompleks ketika ditemukan bahwa upaya maksimal guru di sekolah belum mampu menghasilkan perubahan signifikan akibat rendahnya semangat belajar siswa dan minimnya keterlibatan orang tua di rumah. Tulisan ini berupaya mengur...
Gambar
  Mengapa Anak yang Dihukum Justru Mengulang Kesalahan yang Sama? Oleh Lodovikus Darman Dalam dunia pendidikan, fenomena paradoks sering kita jumpai semakin keras hukuman yang diberikan kepada peserta didik, semakin tinggi pula kemungkinan mereka mengulangi kesalahan yang sama. Realitas ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang efektivitas sistem hukuman dalam membentuk perilaku positif anak, khususnya pada tingkat pendidikan menengah pertama yang merupakan fase kritis perkembangan remaja. Hukuman yang berfokus pada konsekuensi fisik atau emosional cenderung mengabaikan akar permasalahan yang sesungguhnya. Ketika seorang anak melakukan kesalahan, perilaku tersebut seringkali merupakan manifestasi dari kebutuhan yang tidak terpenuhi, kurangnya keterampilan sosial-emosional, atau kesalahpahaman terhadap norma yang berlaku. Hukuman yang diberikan tanpa upaya memahami latar belakang perilaku hanya mengatasi gejala permukaan, bukan menyelesaikan masalah mendasar. Sebagai contoh, seora...
Gambar
Guru: Pahlawan Sunyi di Garis Depan Peradaban Foto Apel Bersama di SMPN SATAP Kembang Lala.Tanggal 10 November 2025 Oleh Lodovikus Darman Ada sebuah pertanyaan yang sering terlupakan setiap kali kita memperingati Hari Pahlawan. Setelah debu peperangan mengendap dan kemerdekaan diraih, siapa yang kemudian membangun peradaban di atas tanah yang baru merdeka itu? Jawabannya sederhana, namun sering terabaikan yakni para guru. Jika para pahlawan 1945 berjuang dengan bambu runcing dan senapan untuk merebut kemerdekaan politik, maka guru adalah pahlawan yang berjuang dengan kapur dan buku untuk merebut kemerdekaan intelektual. Kedua perjuangan ini bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan dua fase dari satu kontinuitas historis yang sama yakni perjuangan untuk merdeka. Plato pernah berkata bahwa jika kita ingin mengubah dunia, ubahlah pendidikan. Namun, filsuf Yunani kuno itu lupa menambahkan satu hal yaitu pendidikan adalah medan pertempuran paling panjang dalam sejarah umat manusia. Berbeda...